Connect with us

Opini

Ancaman Impor Ayam Dan Hegemoni WTO

Tayang

-

Redaksi

Ancaman Impor Ayam Dan Hegemoni WTO

Oleh: Erna Ummu Aqilah

Sebagian masyarakat Indonesia gemar mengkonsumsi olahan dari daging ayam. Berbagai jenis masakan yang berbeda bisa disajikan dengan bahan baku daging ayam. Namun belakangan ini harga daging ayam di pasaran terus melonjak, dan kemungkinan besar kenaikan akan terus terjadi hingga menjelang lebaran idul fitri.

Kenaikan harga ayam ini dipicu oleh mahalnya bibit ayam dan harga pakan, sehingga para peternak terpaksa harus menaikkan harga jual daging ayam agar tidak mengalami kerugian.

Selain karena faktor mahalnya bibit dan pakan ayam, peternak juga terancam dengan gempuran daging ayam impor murah dalam beberapa waktu kedepan. Penyebabnya bukan karena kurangnya stok ayam dalam negeri akan tetapi, ada kewajiban bagi negara kita untuk memenuhi tuntutan dari Brasil di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Dilansir dari CNBC Indonesia 24/4/2021, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Kementerian Perdagangan Syailendra, sudah mengingatkan bahwa serangan impor tidak mengada-ada. Karenanya peternak harus bisa menekan harga ayam dengan mengefisiensikan harga pakan ternak. Ia mengajak semua unsur untuk mempersiapkan teknis di dalam negeri dengan baik, sebelum ada serangan impor ayam dari Brasil.

Persoalan ini bermula ketika Indonesia sempat kalah dari gugatan Brasil, yang didaftarkan ke WTO pada 2014 lalu. Dalam gugatannya Brasil mengeluhkan penerapan aturan tak tertulis oleh Indonesia, yang dianggap menghambat ekspor ayam Brasil ke Indonesia. Tiga tahun berikutnya Indonesia diputuskan bersalah, dan akibatnya Indonesia harus menerima impor daging ayam dari Brasil.

Selama ini banyak produsen ayam di dunia yang mengincar pasar Indonesia. Namun hal itu masih bisa dicegah lantaran kekuatan produksi dalam negeri yang sangat mencukupi.

Dengan adanya kasus sengketa dengan Brasil, pemerintah sepatutnya menyadari WTO hanya alat hegemoni bagi negara produsen, untuk menjebak negeri ini ke dalam bahaya penjajahan ekonomi, dan tidak ada keuntungan sedikitpun bagi negeri ini.

Dalam sistem kapitalis negara terbukti gagal melindungi kesejahteraan bangsa sendiri. Negara seakan takluk dengan keputusan sebuah organisasi badan dunia. Seharusnya jika kapasitas daging ayam dalam negeri masih mencukupi, pemerintah tidak perlu impor dari luar negeri. Namun kebijakan itu kalah ketika harus berhadapan dengan badan perdagangan dunia, yang notabennya membuka pasar bebas seluas-luasnya.

Sebagaimana kita ketahui saat ini perdagangan dunia dikuasai oleh para pemodal. Negara adidaya seperti Amerika Serikat memiliki andil besar dalam perdagangan, dengan kekuatannya dia mampu mengalahkan lawan. Sehingga, negara lain akan bertekuk lutut di bawah kekuasaannya.

Bagi Indonesia yang sudah terlanjur masuk dalam jebakan tak bisa berkutik. Ketika badan perdagangan dunia memutuskan bersalah, sebab perdagangan dipegang oleh negara kapital. Untuk bisa melepaskan diri dari pengaruh para kapitalis memerlukan keberanian yang luar biasa, karena baikot pasti akan dilancarkan oleh mereka. Ya begitulah sistem kapitalis, negara yang kuat akan menjajah negara yang lemah dari sisi mana saja termasuk dari sisi ekonomi.

Jadi selama masih bersandar pada sistem kapitalis, negara ini akan terus ditekan oleh negara-negara adidaya. Negara yang kuat akan mampu menjaga dan melindungi kesejahteraan bagi rakyatnya. Negara akan memperhatikan peternakan dalam negeri, dengan memberikan bibit ternak terbaik, pakan terbaik, riset terbaik, modal yang layak, mekanisme yang baik, serta perlindungan bagi produsen dari kejahatan tengkulak kartel dan lainnya. Sehingga negara mandiri dan kuat serta mampu menghadapi tekanan dari luar bukan tunduk dan terjebak dalam pasar bebas. Wallahu A’lam Bishshawwab.

Klik Untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *