Connect with us

Opini

Banjir Terus Menyapa, Islam Punya Solusinya

Tayang

-

Banjir Terus Menyapa, Islam Punya Solusinya

Oleh: Erna Ummu Aqilah (Member AMK)

Negara Indonesia yang beriklim tropis, memiliki dua musim yakni musim kemarau dan musin hujan. Biasanya musim kemarau berlangsung sekitar bulan April hingga September, dan kelembaban udara cenderung sangat rendah. Sedangkan musim hujan berlangsung antara bulan Oktober sampai Februari. Dan biasanya wilayah yang memiliki curah hujan cukup tinggi akan mudah terjadi banjir.

Dilansir dari detiknews (28/1/2021), banjir menerjang sejumlah wilayah di Kabupaten Pandeglang, Banten, dan mengakibatkan ratusan rumah warga ikut terendam, akibat meluapnya aliran sungai di beberapa wilayah tersebut.

Warga desa Surianeun, Kecamatan Patia, Pandeglang Banten, memilih bertahan di rumah-rumah mereka meskipun sudah terkepung banjir. Karena beralasan demi mengamankan beberapa barang berharga di dalam rumah mereka.

Menurut pengakuan salah satu warga korban banjir bernama Santi, mereka sudah terbiasa dengan kondisi tersebut. Pasalnya banjir kerap terjadi dan sudah menjadi langganan setiap tahunnya.

Fakta di atas membuktikan bahwa pemerintah belum mampu menangani masalah banjir dengan tuntas. Terbukti banjir telah menjadi langganan warga setempat, dan seolah-olah mereka pasrah dengan kondisi tersebut.

Semua kejadian ini bukan sebab faktor alam semata, juga bukan sekedar problem teknis seperti tidak berfungsinya drainase, resapan air, kurang kanal dan lainnya. Akan tetapi merupakan masalah sistemik yang lahir karena sistem kapitalisme.

Sebagaimana kita ketahui sistem kapitlis memandang sesuatu berdasarkan untung rugi. Tata kota dan pembangunan infrastruktur diserahkan pada kemauan kaum kapitalis, yang berorientasi memenangkan bisnis dan tidak memperhatikan lingkungan. Bagi mereka yang terpenting modal sedikit dan untung sebanyak-banyaknya. Akibatnya mereka tak peduli dengan kondisi lingkungan meskipun merugikan masyarakat luas.

Sementara itu kebiasaan buruk masyarakat yang membuang sampah sembarangan juga turut memperburuk keadaan. Jadi penyelesaian banjir tak cukup hanya dengan perbaikan secara teknis, tapi menyentuh perubahan yang idiologis sehingga persoalan bisa diatasi dengan tuntas.

Islam agama yang sempurna, karena bersumber dari yang maha sempurna yakni Allah Swt. Islam punya cara yang canggih dan efisien dalam mengatasi persoalan banjir. Kebijakannya antara lain mengatasi ketika terjadi banjir dan pasca banjir.

Pada kasus banjir yang disebabkan karena keterbatasan daya tampung tanah terhadap curah hujan, gletser, rob dan lainnya, pemerintah akan membangun bendungan-bendungan yang mampu menampung curahan air, untuk mencegah banjir maupun untuk irigasi.

Pemerintah akan memetakan daerah rendah dan rawan genangan air, selanjutnya membuat kebijakan melarang masyarakat membangun pemukiman di wilayah tersebut. Secara berkala pemerintah mengeruk lumpur-lumpur di sungai atau daerah aliran air, agar tidak terjadi pendangkalan.

Pemerintah juga melakukan penjagaan ketat bagi kebersihan sungai, danau, kanal dengan cara memberi sanksi bagi siapa saja yang mencemarinya. Selain itu juga membangun sumur-sumur resapan di kawasan tertentu.

Pemerintah juga membuat kebijakan tentang pembukaan pemukiman atau kawasan baru harus menyertakan, variabel-variabel, drainase, penyediaan daerah resapan air. Penggunaan tanah berdasarkan karakteristik tanah dan topografinya, juga melarang keras perusakan lingkungan dengan dalih apapun. Dengan adanya kebijakan ini mampu mencegah kemungkinan terjadinya banjir.

Sedangkan dalam menangani korban, pemerintah bertindak secara cepat dengan melibatkan seluruh warga yang dekat dengan daerah bencana. Dengan menyediakan tenda-tenda, makanan, pakaian dan pengobatan.

Selain itu juga mengerahkan para alim ulama untuk memberikan tausiyah bagi korban, agar mengambil pelajaran dari musibah yang menimpa sekaligus menguatkan keimanan agar sabar, tabah, dan tawakal kepada Allah Swt.

Semua kebijakan tersebut tidak hanya berdasarkan pertimbangan rasional tetapi, juga berdasarkan nash-nash dalam syari’at. Dengan ini insya Allah masalah banjir bisa ditangani dengan tuntas. Wallahu A’lam Bishshawwab.

Klik Untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *