Beranda Opini Capres dalam Cengkraman Oligarki

Capres dalam Cengkraman Oligarki

Oleh: Memed Chumaedy (Dosen FISIP UMT)

Pendaftaran capres masih satu tahun lagi, akan tetapi Teka-teki capres sedikit demi sedikit sudah mulai terkuak Dengan kemunculan beberapa nama seperti Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo semakin menyeruak nama-nama elite politik yang muncul seperti Prabowo subianto, Puan Maharani, Muhaimin Iskandar, Airlangga Hartarto dan AHY

Walaupun masih bisa berubah akan tetapi kecendrungan pilihan partai politik semakin kentara muaranya akan berlabuh kemana. Hal ini ditandai dengan keberadaan koalisi menuntun analis public Indonesia atas preferensi pemilih yang dicapture dari opini publik yang dirilis oleh beberapa Lembaga survey yang ada.

Kemunculan kedua nama terakhir seperti Anies dan Ganjar menunjukan bagaimana polarisasi partai politik dalam penentuan capres semakin besar peluang ini diusung oleh koalisi partai politik. Koalis pendukung Anies yang digawangi oleh NASDEM mulai mengenalkan figur ini ke public begitupun Ganjar sedikitnya partai PSI sudah sesumbar atas nama ini.

Fenomena munculnya 2 nama ini yang merupakan kepala daerah bukan merepresentasikan elit partai politik. Anies sebagai professional yang menjadi gubernur DKI Jakarta dan Ganjar Pranowo yang merupakan kader partai non structural menggeliat Namanya dalam top of mind 3 nama capres potensial selain prabowo. Setidaknya dalam survey kemunculan Anies dan Ganjar ini menjadi perhatian partai politik dan juga kelompok kepentingan lainnya.

Kepentingan kelompok lainnya dalam hal ini adalah oligarki, sejauh ini oligarki menjadi pemain dalam dinamika politik di Indonesia yang tidak dapat dihadang kepentingannya, karena ada harapan besar bagi mereka untuk menentukan capres kedepannya agar sokongannya linear dengan kepentingannya.

Oligarki dimana-mana

Istilah oligarki (oligarchy) berasal dari kata bahasa Yunani oligarkhia, yang dikembangkan dari kata dasar oligos yang berarti beberapa (few) dan arkho yang berarti memerintah (to rule or to comand). Secara harafiah, oligarki adalah pemerintahan yang dikuasai oleh segelintir orang kaya.

Setiap negara demokrasi pasti memiliki kecendrungan dikontrol oligarki, termasuk Indonesia. Jeffrey Winters dalam tulisannya Oligarchy and Democracy in Indonesia, mengatakan demokrasi di Indonesia dikuasai oleh kelompok oligarki, Selaku sponsor, para oligark tentu memiliki berbagai kepentingan yang harus disuarakan oleh para kandidat ataupun partai politik. lanjut Winters dari semua sumber daya kekuatan politik di Indonesia, kekuatan materil (kekayaan) sejauh ini adalah yang paling terkonsentrasi, serbaguna, tahan lama, dan paling tidak dibatasi.

Selain itu, Hadiz dan Robison  memandang oligarki di Indonesia sebagai suatu sistem relasi kekuasaan yang memungkinkan konsentrasi kekayaan dan otoritas serta pertahanan kolektif atas konsentrasi kekayaan. Oligarki berwajah demokrasi di Indonesia bukanlah hal yang baru. Sejak kapitalisme neoliberal bangkit dan berkembang pesat pada era Orde Baru, oligarki juga berkembang sebagai praktik dan mekanisme politik kekuasaan.

Jika pada era Orde Baru oligarki yang berkembang bersifat sultanik dengan Soeharto sebagai ‘sultan’ tunggal, pada era reformasi yang berkembang adalah oligarki-elektoral-yang-berkuasa (electoral ruling oligarchy), yaitu oligarki yang keberlangsungannya difasilitasi oleh prosedur demokrasi liberal-elektoral.

Ciri utama oligarki adalah kekuasaan segelintir elite politik dan ekonomi yang nyaris bersifat kekal dan turun-temurun dan memerintah sebagian besar rakyat miskin. Oligarki sejatinya tidak memiliki kekuatan untuk mencengkeram negara kalau tidak diizinkan oleh kekuasaan. Semestinya, pemerintah sejak awal seharusnya mampu mempersempit ruang oligarki, dan memperbesar ruang kuasa negara untuk mengatur hajat hidup orang banyak.

Sinyalemen capres dambaan oligarki

Sering kita mendengar adagium “setiap orang ada harganya” adagium ini lumrah diungkap karena kesetiaan seseorang dapat ditukarkan dengan materiil atau uang. Dan uang sendiri dapat dimanifestasikan ke dalam bentuk kekuatan lain.

Sinyalemen ini ditunjukkan bagaimana para pialang capres pasca reformasi menginisiasi untuk menginventarisasi oligarki yang mau berpartisipasi secara finansial untuk kebutuhan operasionalisasi pencapresan. Kesan terburuknya adalah para capres sejatinya dikelilingi oleh oligarki untuk mendesign kepentingan circle ketimbang rakyat. Akhirnya kesan yang muncul adalah rakyat menjadi pemain nomor 2 setelah oligarki.

Munculnya kandidat seperti anies, ganjar, Prabowo, Puan, Muhaimin tidak lepas dari circle oligarki. Memang yang paling kentara adalah Anies dan Ganjar ada beberapa alasan yang perlu ditegaskan, pertama Anies dan Ganjar merupakan orang yang tidak memiiki ikatan kepartaian maupun penentu dipartai, Anies sebagai professional politik mampu memukau partai-partai lain untuk mengusung dirinya, begitupun ganjar yang notabene kader partai tapi bukan penentu dipartai politik, jika dianalisis lebih dalam keduanya berpeluang untuk dipinang karena survey menyatakan bahwa keduanya memiliki popularitas dan elektabilitas tinggi. Karena tidak ada ikatan kepartaian yang dominan maka keduanya berpeluang diminati oleh Oligarki.

Kedua, Anies dan Ganjar tidak memiliki basic sebagai pengusaha. alasan diterapnya anies dan ganjar oleh penyokong mereka karena tidak ada ikatan kuat secara personal dirinya dengan komponen bisnis, wajar kemudian Oligarki menimbang keduanya sebagai stimulus mereka atas proses politik kedepannya.

Kedua penegasan peluang bermainnya oligarki di ranah politik electoral kental erat terhadap anies dan ganjar bagi oligarki. Pengusaha dan politisi plamboyan seperti Surya Paloh (SP) dan Jusuf kalla (JK) sebagai pemain utama mampu menjadi laison officer anies kepada oligarki. Intensitas komunikasi SP dan JK menggoalkan anies dapat dipastikan keduanya menjadi string-pullers atau penarik tali. Supporting JK-SP sebagai string-pullers merupakan pihak yang memiliki kontrol atau pengaruh terhadap keputusan pejabat pemerintahan.

Ganjarpun dipersepsikan sama dengan anies. Besar kemungkinan sokongan terbesarnya dari penguasa saat ini yaitu Jokowi. Presiden Jokowi turut andil besar memfasilitasi Ganjar kepada partai politik koalisi jokowi. Sebagai penguasa direpublic ini sangat dimungkinkan Jokowi bertaruh all out dengan Segala infra dan supra struktur kekuasaan yang dimobilisasi untuk memenangkan ganjar. Jokowi sangat kental dipersepsikan sebagai string puller atau king maker untuk mempertemukan ganjar dengan kelompok oligarki.

Ala kulli hal, Publik harus lebih cermat, melihat latar belakang, Bukan kecendrungan isi tas yang melampaui kapasitas, integritas dan prestasi para capres yang akan berlaga di pilpres 2024 kedepan. Jika yang tampil dan terpilih adalah sosok-sosok capres dengan hanya modal pencitraan dan dari hasil manipulasi oligarki-kapitalis, akan menghadirkan sosok yang pemimpin yang bekerja atas kemauan mereka. sedangkan espektasi public terhadap calon pemimpin bangsa yang besar ini harus memenuhi unsur terpenting, yaitu memiliki visioner untuk rakyat kedepannya, berkarakter, berkompeten, dan beyond capacity presiden terdahulu.

Wallahu a’lam bisshowab.

SebelumnyaHeru Sutrianto Pimpin MD KAHMI Jakarta Barat 2022-2027
BerikutnyaUPK Tigaraksa Selesaikan Rehabilitasi 62 RTLH Selama 2 Bulan