Connect with us

Opini

Cara Islam Mewujudkan Ketahanan Pangan

Tayang

-

Laporan

Cara Islam Mewujudkan Ketahanan Pangan

Oleh : Erna Ummu Aqilah (Member AMK)

Negara kita yang terkenal sangat subur, bahkan ibarat tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman. Hutan yang luas dengan berbagai flora dan fauna di dalamnya. Lautan yang sangat luas dengan berbagai jenis biota laut didalamnya. Juga berbagai jenis hasil tambang melimpah dinegeri tercinta. Begitu pula sumber daya manusia, yang sangat berpotensi bila diberdayakan dengan sebaik-baiknya dipastikan mampu membuat negeri ini sejahtera.

Namun faktanya negara kita belum mampu mewujudkan ketahanan pangan bagi rakyatnya. Mulai dari kelangkaan beberapa komoditas bahan pangan dipasaran, hingga melonjaknya berbagai bahan kebutuhan masih sering kita alami.

Tak jarang solusi instan yang diambil demi memenuhi kelangkaan, dengan cara membuka kran impor seluas-luasnya. Akibatnya mengancam keberadaan para petani lokal. Selain harga kebutuhan yang diimpor  jauh lebih murah, disinyalir kualitas barang juga lebih bagus. Sehingga harga panen dari petani lokal menjadi anjlok.

Akibatnya mereka menjadi enggan untuk mengolah tanah mereka. Karena mahalnya biaya produksi mulai dari tenaga, bibit, pupuk, maupun perawatan sangat tinggi, sedangkan hasil panen yang didapat tak cukup untuk mengembalikan biaya produksi.

Dilansir dari BantenNews.co.id.(27/1/2021), Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengajak seluruh anggota Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), untuk bersama-sama mewujudkan ketahanan pangan serta menghadirkan pertanian yang semakin maju, mandiri, dan modern.

Menurut Syahrul, kontribusi HKTI dalam membangun pertanian sangat besar. Terlebih dalam melakukan konsolidasi dan membantu para petani sehingga, berkualitas dan mampu meningkatkan produktivitas dan sumber daya manusia yang semakin berkualitas.

Terkait hal ini Ketua Umum HKTI, Jendral (pur) Moeldoko berjanji akan meningkatkan kordinasi dan kemunikasi dengan semua pihak terkait. Menurutnya langkah tersebut penting diambil karena menjadi kunci dalam membantu petani mewujudkan kesejahteraan.

Menurut Moeldoko HKTI dan pemerintah perlu membangun sosial engineering, dimana pertanian tidak bisa dilakukan dengan cara-cara lama, tetapi harus dengan inovasi baru dengan memanfaatkan teknologi dan mekanisme terlebih di era new normal. Sektor pertanian harus menjadi ujung tombak kearah perubahan lebih baik.

Dalam sistem kapitalis sangat sulit untuk bisa mewujudkan cita-cita ketahanan pangan. Sebab solusi yang diambil oleh para pemangku kebijakan dianggap lebih cenderung pro terhadap para importir. Didalam memenuhi kebutuhan pokok bagi masyarakat, negara hadir hanya sebatas regulator bukan sebagai pelayan bagi rakyatnya.

Persoalan semakin parah karena diera kapitalis, distorsi pasar (mafia pangan) adalah persoalan yang sulit diselesaikan. Belum lagi dugaan penimbunan yang dilakukan oknum, demi mendongkrak harga di pasaran demi meraup keuntungan sebesar-besarnya. Dan lagi-lagi rakyatlah yang menjadi korbannya.

Islam memiliki jurus jitu dalam mewujudkan ketahanan pangan bagi rakyatnya. Islam memandang bahwa kebutuhan pangan adalah kebutuhan mendasar bagi rakyat, karenanya negara wajib menjamin terpenuhinya semua kebutuhan dengan baik. Islam melalui aturan-aturannya, menjamin terlaksananya mekanisme pasar dengan baik.

Negara wajib memberantas berbagai distorsi pasar seperti penimbunan, riba, monopoli, dan penipuan karena bertentangan dengan Islam.

Negara mencatat dengan jelas berapa banyak stok hasil produksi yang akan disalurkan kemasyarakat, dan berapa jumlah yang dibutuhkan. Sehingga terjadi keseimbangan supplay dan demand ( harga naik/ turun dratis), negara melalui pengendali segera menyeimbangkan dengan mendatangkan barang dari daerah lain.

Disisi lain negara wajib menerapkan kebijakan dalam mengatasi kelangkaan dengan, memanfaatkan negara agraris secara optimal. Diantaranya pemberian subsidi untuk keperluan produksi pertanian.

Kepada para petani diberikan berbagai bantuan, dukungan, fasilitas, dalam berbagai bentuk. Bantuan bisa berupa modal, peralatan, benih, teknologi, budidaya, obat-obatan, pemasaran, informasi dan lainnya.

Baik dengan bantuan secara langsung maupun subsidi, maka seluruh lahan yang ada akan produktif. Negara juga akan mengambil alih tanah yang diterlantarkan oleh pemiliknya lebih dari tiga tahun, dan diberikan kepada siapa saja yang membutuhkan dan bisa menghidupkan kembali tanah tersebut, sehingga tidak ada lahan yang terlantar.

Negara juga akan membangun infrastruktur pertanian seperti irigasi, jalan, komunikasi, dan lainnya sehingga distribusi lancar. Jadi hanya dengan menerapkan Islamlah cita-cita swasembada pangan bisa benar-benar diwujudkan. Wallahu A’lam Bishshawwab. *

Klik untuk komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik izinkan notifikasi untuk menerima berita dan pembaruan dari kami
Abaikan
Izinkan Notifikasi