Fenomena Crazy Rich dalam Pandangan Islam

Oleh: Erna Ummu Aqilah

Sering kita dengar ungkapan “kecil bahagia, muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk syurga”. Dari ungkapan tadi, jika dibayangkan contoh hidup yang sangat sempurna. Sebab sama sekali tidak pernah dialami kesusahan. Seperti kisah putri dan pangeran di negeri dongeng.

Belakangan ini ramai kabar tentang para Crazy Rich (orang yang super kaya), berurusan dengan pihak berwajib. Saking kayanya mereka suka memamerkan hartanya dengan memposting di berbagai media.

Semua mereka lakukan semata-mata untuk menunjukkan kesuksesannya di usia muda, sekaligus mencari pengakuan di tengah-tengah masyarakat luas. Mulai pakaian yang mereka kenakan dan asesoris dari topi, kacamata, jam tangan, tas, sepatu semua serba bermerek. Beberapa aset seperti deretan mobil mewah dan rumah megah bak istana raja, yang semuanya memiliki nilai sangat fantastis.

Konon, kekayaan itu mereka peroleh dari berbagai bisnis yang dijalankannya. Bahkan ada Grazy Rich yang suka memamerkan hartanya dengan cara merusaknya. Tak hayal membuat masyarakat mengelus dada.

Mereka gemar melakukan traveling menggunakan jet pribadi. Mengadakan pesta dan menghadirkan artis-artis ternama. Juga hobi membagi-bagikan hadiah mewah dan uang dengan nilai fantastis, yakni ratusan juta bahkan sampai milyaran Rupiah.

Sebagai orang awam, apalagi yang kondisinya serba kekurangan, tentu pemandangan tersebut membuat pilu dan menyayat hati. Bagaimana tidak, untuk bisa makan sehari tiga kali dengan lauk sederhana saja mereka sulit. Sebab mahalnya harga-harga berbagai kebutuhan pokok.

Namun, di sisi lain ada anak muda dengan gaya hidup berfoya-foya. Sebaliknya ada sebagian masyarakat yang dari kecil, bahkan sampai hari tua masih hidup miskin dan menderita.

Kenapa bisa demikian? Sebab masyarakat Indonesia saat ini, hidup dalam sistem kapitalis sekuler. Di mana mereka beranggapan bahwa hidup cuma sekali, jadi harus bahagia apapun caranya. Sebab bahagia menurut mereka adalah, ketika terpenuhinya seluruh kebutuhan jasmani dengan sebaik-baiknya.

Untuk bisa mewujudkan itu semua, tak jarang mereka berbuat dosa.

Islam tidak melarang kita menjadi kaya namun, Islam punya aturan dan tata cara untuk mendapatkan harta sekaligus cara membelanjakannya. Sebab kelak semua akan ada hisabnya. Islam memiliki pandangan yang khas tentang bahagia. Yakni dengan diraihnya ridho dari Allah SWT.

Bukti harta bukan satu-satunya sumber kebahagiaan adalah, banyak kita dengar, artis ternama, kaya-raya namun memilih mengakhiri hidupnya karena tidak sanggup menghadapi masalahnya.

Juga banyak kita saksikan para pejabat yang sudah kaya-raya, namun masih saja melakukan korupsi dan berujung dipenjara. Semua itu menjadi bukti kalau jabatan, ketenaran, dan kekayaan bukanlah sumber dari segala kebahagiaan.

Islam merinci bagaimana cara memperoleh harta secara benar, sekaligus cara untuk membelanjakannya. Dalam pandangan Islam, hakekatnya harta adalah milik Allah SWT. Di mana Allah telah menyerahkan pada siapa saja untuk menguasai harta tersebut, sehingga sah menjadi miliknya.

Dalam Islam harta dapat diperoleh dengan cara yang hak, dan melarang keras cara kotor dan ilegal. Islam juga mengajarkan tata cara membelanjakannya dengan benar, tidak berfoya-foya apalagi lagi dengan tujuan pamer atau riya.

Allah SWT telah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara syetan, dan syetan itu sangat ingkar kepada Tuhannya”, (Qs.Al-Isra : 27).

Jadi Allah melarang keras perbuatan boros dan pamer, kendati demikian Islam juga melarang kita hidup kikir atau pelit. Islam menyukai kesederhanaan, sebagaimana Rasulullah SAW telah mencontohkan.

Wallahu a’lam bishshawwab.

BERITA TERKAIT
- Advertisment -
- Advertisment -

BERITA TERBARU