Connect with us

Opini

Gadget di Tangan Generasi Z

Tayang

-

Redaksi

Foto Ilustrasi. (Istimewa)

Oleh: Hidayati Sundari (Pendidik dan Pemerhati Masyarakat)

Gadget dan media sosial adalah hal yang tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan sehari-hari. Terutama bagi generasi Z atau yang sering disebut dengan Gen-Z. Penggunaan internet yang semakin tinggi membuat para Gen-Z ini tidak bisa lepas dari gawainya. Berbagai media sosial sangat akrab dengan mereka seperti Instagram, SnapChat, Tweeter, YouTube, TikTok dan yang lainnya.

Akses internet yang sangat cepat membuat mereka dapat dengan mudah mengakses berbagai situs, mendapatkan berita terkini dalam hitungan detik, dan mempermudah mereka mengekspresikan apa yang mereka inginkan dan apa yang mereka sukai lewat berbagai konten.

Berbagai konten menarik dan kreatif dapat mereka buat dengan mudah di media sosial baik berupa video, foto atau tulisan, melalui berbagai flatform yang ada, seperti Blog, situs Web, ataupun akun YouTube.

Generasi Z sendiri adalah generasi yang muncul setelah generasi X, generasi Y dan generasi milenial. Berikut perbedaan antar lintas generasi ini.

Dilansir dari Kompas.com (17/04/2021) Generasi X adalah generasi yang lahir sekitar tahun 1965 hingga tahun 1980. Generasi X tumbuh di masa perkembangan teknologi yang sama sekali baru seperti handphone dan laptop.

Setelah generasi X, lalu muncul generasi Y. Generasi ini dikenal juga sebagai generasi milenial, yang lahir sekitar tahun 1980 hingga tahun 1995 pada saat teknologi telah maju. Generasi milenial dikenal juga sebagai generasi yang melek teknologi, sangat mahir dengan ponsel pintar, dan sangat menggandrungi media sosial.

Sedangkan generasi Z sendiri adalah generasi yang lahir setelah generasi Y, sekitar tahun 1995 sampai 2012. Sudah dapat dipastikan bahwa para Gen Z ini sudah sangat melek teknologi bahkan sedari mereka masih berusia sangat dini.

Dikarenakan mereka lahir dan besar di era teknologi tinggi, di mana pertukaran informasi sangat cepat membuat mereka memiliki karakter yang tidak dimiliki oleh generasi sebelumnya. Mereka adalah generasi yang penuh percaya diri, Mandiri, sangat kreatif, mempunyai pemikiran yang terbuka, dan berpikir kritis dalam memecahkan masalah.

Tidak selamanya kedekatan Gen-Z dengan teknologi memberi manfaat yang positif. Seperti halnya kehidupan, akan selalu ada dua sisi yang berbeda dan saling bertolak belakang namun saling terkait. Begitupun dengan kemajuan teknologi dan pesat nya dunia internet. Banyak hal positif yang bisa kita ambil, namun akan ada hal negatif yang harus terus kita waspadai.

Mumpuninya mereka berinteraksi di media sosial dan pandainya mereka mengekspresikan kreativitas mereka di berbagai flatform media sosial, membuat mereka menjadi generasi yang rawan terpapar oleh hal-hal negatif dari masifnya media internet.

Berikut beberapa hal negatif dari penggunaan gadget yang harus diwaspadai:

Dapat menyebabkan kecanduan

Nomophobia (No-mobile-phone-phobia) adalah fobia atau rasa takut yang berlebihan jika tidak membawa ponsel. Hal ini sangat mungkin terjadi dikarenakan keseharian para Gen Z ini yang tidak pernah lepas dari gadget mereka. Beberapa ciri seseorang terkena nomophobia adalah mereka akan selalu mengecek gadget mereka setiap sepuluh menit sekali bahkan bisa kurang dari itu. Bahkan diantara mereka tidak dapat keluar rumah jika tidak membawa gadget mereka.

Kurangnya interaksi sosial di dunia nyata

Sesuai dengan karakter Gen-Z, yang penuh percaya diri dan mempunyai pemikiran yang terbuka, mereka akan sangat mudah berinteraksi di dunia maya. Banyaknya platform media sosial membuat mereka mudah menjalin pertemanan. Sayangnya hal ini sering membuat para Gen-Z melupakan bahwa ada yang perlu mereka perhatikan juga seperti keluarga dan teman di dunia nyata. Terkadang hal ini juga membuat mereka tidak dapat berempati terhadap orang lain.

Depresi dan kecemasan yang meningkat

Aktifnya Generasi Z dalam berbagai flatform media sosial, terkadang membuat mereka dengan mudah berbagi segala aktivitas dan menunjukan eksistensi. Membuat konten-konten kontroversi hanya untuk memperbanyak followers, atau demi meraih banyaknya subscriber di chanel YouTube mereka.

Mudahnya para Gen-Z mengumbar kebersamaan dengan pasangan, keluarga maupun para sahabat, sehingga tidak ada lagi privasi. Semua dikaitkan dengan penampilan fisik, bagaimana seseorang berpenampilan, produk yang dikenakan, semua bisa di lihat di media sosial. Tidak jarang masalah ini yang menyebab terjadinya cyberbullying.

Hal ini juga yang kerap menjadi depresi dan kecemasan meningkat, sebab tidak semua orang dapat menunjukan eksistensi yang sama dengan apa yang mereka lihat di media sosial. Depresi dan kecemasan ini lebih umum terjadi pada para wanita, di sebabkan wanita dianggap lebih peka dalam merespon berbagai informasi yang ada di media sosial.

Penyalahgunaan gadget

Dengan semakin mudahnya akses internet, membuat beberapa Gen Z ini melakukan penyalahgunaan dan penyimpangan. Menurut beberapa penelitian mengatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara pengakses situs porno terbanyak. Hal ini tidak dapat di hindari sebab Indonesia juga termasuk negara yang masih longgar dalam memproteksi warganya dari serangan penyebaran situs porno.

Gangguan kesehatan

Tidak bisa lepasnya para Gen-Z dari gadget, membuat mereka sangat bergantung pada benda pintar ini. Aktivitas dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, gadget selalu dalam genggaman mereka. Hal ini dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan seperti: kurang tidur, kerusakan pada mata, beresiko terkena obesitas, dan pengaruh radiasi terhadap tubuh.

Keberadaan gadget dan media sosial tidak selalu mengenai hal negatif. Masih banyak hal positif yang bisa diambil jika kita mau menggunakannya dengan bijak. Lalu bagaimana agar gadget dan semua akun media sosial kita bisa bermanfaat baik untuk diri kita sendiri maupun untuk yang lainnya?.

Niatkan semua aktivitas kita di media sosial selain untuk menjalin silaturahmi dan menambah pertemanan, niatkan juga untuk menebar kebaikan dan mencegah keburukan. Bukan hanya ajang pamer kekayaan atau sekedar mencari sensasi dan kontroversi.

Para Generasi Z, bisa membuat konten edukasi yang menarik dan kreatif dibanding konten yang hanya berisi hiburan semata. Membuat tulisan di blognya yang inspiratif dan kaya akan manfaat. Bahkan dapat menyebarkan dakwah ke sesama Gen-Z dengan gaya mereka yang santai, lugas tetapi tetap mengena di hati para Gen-Z.

Generasi Z ini memiliki karakteristik yang menyukai kebebasan, baik kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi, maupun kebebasan berkreasi. Namun tetap ada adab yang harus di patuhi dalam bermedsos seperti tidak berghibah, namimah (mengadu domba), memecah belah dan menyebar hoaks. Untuk itu perlu ketelitian dan kehati-hatian ketika membuat konten, blog, me-retweet ataupun meng-share berita yang didapat.

Pada akhirnya kita sendirilah yang akan menuai apa yang kita tanam. Semoga kita dapat memanfaatkan gadget dan media sosial kita dengan sebaik-baiknya untuk menyebarkan ilmu dan kebaikan.

Wallahu A’lam Bishshawwab

Klik Untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *