Connect with us

Opini

Islam Adalah Solusi Untuk Negeri yang Sedang Sakit

Tayang

-

Redaksi

Islam Adalah Solusi Untuk Negeri yang Sedang Sakit
Foto: Getty Images/iStockphoto/meen_na

Oleh: Hidayati Sundari (Pendidik dan Pemerhati Masyarakat)

Negeri ini memang sedang sakit. Bagaimana tidak. Seorang publik figur yang telah dinyatakan bersalah melakukan kekerasan seksual, menjalani hukuman dan beberapa hari lalu di bebaskan di sambut bak pahlawan. Sang publik figur dikalungi seuntai bunga, di arak dengan mobil mewah,dan sang aktorpun tersenyum dengan bangga sambil melambaikan tangan dan mediapun meliputnya secara besar-besaran.

Kasus lainnya yang mencuat terkait kekerasan seksual adalah salah seorang pegawai pusat Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang mengalami kekerasan seksual dan perundungan. Sebetulnya kasus ini kasus lama namun tidak kunjung terselesaikan. Kasus ini sebetulnya kasus yang terjadi tahun 2015 lalu. Sang korban menceritakan kembali kejadian tersebut di media sosial sebab upanya memperkarakan si pelaku tak kunjung berhasil. Setelah ramai di berbagai media, barulah pihak-pihak yang terkait menanggapi.

Sangat disayangkan memang, lembaga yang seharusnya bisa menjamin masyarakat untuk memperoleh informasi yang layak dan benar serta menampung dan menindaklanjuti aduan, serta kritikan dari masyarakat terhadap penyelenggaraan penyiaran, tidak berfungsi dengan selayaknya. Jangankan untuk menyaring tayangan media agar dapat menyajikan tayangan edukatif. Ternyata ditubuh internalnya sendiri masih banyak yang harus di benahi, kasus kekerasan dan perundungan salah seorang pegawainya misalnya.

Mediapun punya andil dan tanggung jawab besar agar dapat berjalan sesuai fungsinya, yaitu to inform, to educate dan to entertain.Jadi, tayangan atau program-program yang akan di sajikan kepada masyarakat harus dapat mengedukasi masyarakat. Bukan hanya aspek hiburan saja, atau capaian rating yang tinggi, dan tentu saja rupiah yang mengalir dari banyaknya iklan yang menghampiri.

Seperti kasus yang marak saat ini, seorang pelaku kekerasan seksual terhadap anak masih bisa mendapatkan panggung di dunia hiburan. Semakin bobrok akhlak sang selebritis maka akan semakin di cari media, berebut ingin menayangkan program dengan bintang tamu orang tersebut. Sangat miris memang, apa lagi terjadi di negeri mayoritas muslim.

Salah satu penyebab kasus kekerasan seksual semakin marak dan banyak yang mencuat ke permukaan adalah buah dari di adopsinya sistem kapitalis di negeri ini. Banyaknya konten porno di berbagai media dan sangat mudah di akses oleh banyak kalangan, termasuk anak-anak menunjukan adanya kebebasan prilaku. Termasuk juga ke bebasan dalam ekonomi, apapun kontennya yang penting menghasilkan uang maka akan dijadikan sebagai ladang usaha. Tidak lagi memandang mana konten yang bermanfaat atau konten yang merusak.

Hal lainnya yang di adopsi negeri ini adalah paham liberalisme. Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Contohnya adalah semakin permisifnya masyarakat pada segala jenis penyimpangan seksual. Masyarakat awam yang sudah terkontaminasi oleh paham liberalis akan mengatakan bawa orientasi seksual yang menyimpang adalah hal pribadi dan itu adalah hak individu apapun pilihan orientasi penyimpangan seksualnyh. Dan faktor penyebab lainnya tentu saja hukuman yang di terima pelaku masih terlalu ringan dan tidak membuat efek jera.

Diperlukan peran masyarakat, agar tidak terlalu permisif akan segala jenis penyimpangan seksual, agar lebih kritis terhadap berbagai tayangan media yang tidak layak tayang. Tentu saja jika hanya masyarakat yang bergerak, hasilnya akan sangat minim karena masyarakat hanya sebagai rakyat biasa, di perlukan peran pemerintah sebagai penguasa yang bisa membuat berbagai regulasi, hanya di tangan penguasalah berbagai permasalahan bisa di selesaikan, jika memang pemerintah peduli akan keselamatan rakyatnya.

Pemerintah bisa mengawali dengan menutup situs-situs porno, tidak mudah memang sebab satu situs porno di hapus seribu yang akan muncul kembali, tetapi bukan hal yang mustahil bagi pemerintah jika ada kemaun keras untuk melindungi para generasi muda. Pemerintah harus lebih menekan para pemilik media, agar tayangan yang bermanfaat saja yang harusnya di tampilkan bagi masyarakat, bukan malah melegalkan berbagai tayangan yang tidak mendidik sama sekali.

Masalah yang paling krusial tentu saja penanganan hukum, jika para pelaku hanya di tuntut hukuman yang ringan, bagaimana mungkin akan menimbulkan efek jera bagi pelaku dan bagi masyarakat lainnya.

Terkait masalah hukum, ada draft Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) yang tak kunjung selesai tercatat sejak tahun 2016 rancangan ini dirilis, sampai saat ini belum juga di tetapkan sebagai Undang-Undang. Kabar terbaru adalah draft ini berganti judul tidak lagi menggunakan kata “penghapusan”. Draft Rancangan Undang-Undang ini kini menjadi RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Entah harus menunggu berapa lama lagi agar draft Undang-Undang ini akan di sahkan. Entah harus berapa banyak orang yang akan menjadi korban lagi. Harus berapa banyak lagi pelaku kejahatan seksual yang hanya mendapatkan hukuman ringan.

Terlihat jelas bagaimana gambaran penangan kasus kekerasan seksual di negeri ini, sangat lamban dan terkesan adanya pembiaran. Peraturan atau Undang-Undang dapat di rubah sekehendak hati. Pergantian penguasa berarti kebijakan dan peraturan ikut berganti juga. Sudah saatnya untuk beralih pada sistem Islam. Sistem yang akan melindungi masyarakatnya dari segala jenis kejahatan termasuk kekerasan seksual.

Dalam Islam para pelaku kekerasan seksual akan di kenakan hukuman yang tegas dan keras yang akan membuat jera para pelakunya. Sanksi yang keras juga akan mencegah orang lain untuk berbuat hal yang sama. Sanksi yang akan dijatuhkan adalah hukuman mati, jika yang dilakukan adalah sodomi (liwath). Namun, jika yang dilakukan adalah pelecehan seksual (at taharusy al jinsi) yang tidak sampai pada perbuatan zina atau homoseksual, hukumannya ta’zir, yaitu kadar dan jenis sanksinya ditentukan oleh Khalifah, bergantung tingkat kejahatannya.

Tentu saja tidak sekedar sanksi yang keras terhadap para pelaku kekerasan seksual ini. Dalam Islam, sudah di atur bagaimana agar kekerasan seksual ini bisa di cegah, bukankah tindakan preventif lebih baik dari pada harus mengobati penyakit yang sudah kronis?

Pada dasarnya dalam Islam pergaulan antara laki-laki laki dan perempuan adalah terpisah, kecuali pada beberapa bidang tertentu, Islam memperbolehkan adanya interaksi dalam: jual beli, peradilan, pendidikan, kesehatan, akad tenaga kerja dan yang lainnya. Selain menjaga interksi dengan lawan jenis, Islam juga mengatur agar semua perempuan yang sudah baligh untuk menutup auratnya, dan untuk laki-laki agar pandai dalam menundukan pandangan. Lalu bagaimana pengaturan media dalam islam, tentu saja dalam pengaturan Islam media hanya akan menayangkan hal yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat luas, pemerintahan Islam akan mengawasi dengan sangat ketat akan hal ini.

Begitu sempurnanya Islam dalam mengatur seluruh sendi kehidupan manusia, tidak akan ada yang terlewat walau sedikitpun. Hukum yang berasal dari yang Maha Mengetahui. Tentu yang tebaik untuk kita mahluk yang sangat jahil ini. Lantas masih ragukah kita untuk menerapkan aturan Allah.

Wallahu A’lam Bishshawwab.

Klik Untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *