Connect with us

Opini

Kartini dan Lebaran Usang

Tayang

-

Redaksi

Kartini dan Lebarang Usang

Banten24.com – Selalu ada Kartini di setiap diskursus perempuan. Kartini satu di antara sedikit perempuan Indonesia yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Lahir dari keluarga ningrat tapi tidak membuat ia termanjakan.

Sosoknya memang berbeda dari wanita lain pada masanya saat itu karena dia bergerak gesit dan keras melawan tradisi, menentang kebodohan, masa dimana perempuan tidak diberi hak secara konstitusional setara seperti sekarang.

Kartini memang layak dijuluki Pahlawan, benar pejuang perempuan dan bukan hanya sekedar gadis dari suara kaum bangsawan. Tombak perjuangannya mencerdaskan bangsa dengan pena, dan ini seringkali diremehkan pada saat jamannya. Tidak mungkin perempuan yang harusnya di belakang, bisa memiliki kemampuan untuk melawan. Nyatanya, Kartini muda mendobrak limit, kisahnya selalu menarik untuk dibedah sebagai warisan keilmuan fondasi atau Gender Equality.

Sedikit menoreh ke belakang, Eksistensi perjuangan Kartini adalah nilai yang terkristalisasi dalam gagasan-gagasannya yang kini nyaring terdengar di setiap penjuru negeri. Bagaimana menjadi “Kartini Masa Kini” adalah dengan menjalani setiap perjuangan perempuan dengan cara, metode dan strategi masing-masing. Tempuh itu dengan berbagai jalan, pendidikan formal, informal atau non-formal.

Istriku, Ia menulis di status Istagramnya tentang penderitaan setiap ibu rumah tangga yang disengsarakan janji-janji busuk para penguasa yang membuat kebijakan semaunya hingga berakibat harga kebutuhan hidup naik, membuat kehidupan yang berpenghasilan pas-pasan seperti kami kian tercekik.

Lihat saja Tabung gas yang kian sulit di dapatkan di warung-warung, Tukang kredit baju dan mukena untuk lebaran sudah merajalela, harga daging yang melonjak tinggi di tambah bahan bumbu dapur yang sulit di dapatkan dan sekalipun ada dengan harga yang mahal semakin menambah prustasi kaum ibu rumah tangga. Belum lagi ada pepatah usang “Jika makanan di rumah kurang bumbu maka cicipilah bumbu tetangga” seakan momok bagi kaum perempuan yang sudah bersuami. Yups itulah catatan istriku di pagi hari ini.

Beruntungnya aku, catatan keluh kesah istriku hanya di tulis di kolom status media sosial miliknya, bukan di kirim melalui surat ke noni-noni dinegeri belanda sehingga jeritan keprihatinan kaum perempuan hanyalah sebatas tulisan usang yang terbang tertiup kincir angin.

Penulis: Adang Akbarudin (Ketua DPD KNPI Kabupaten Tangerang)

Klik Untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *