Kawasan Hutan Mangrove Desa Muara Dulu Terbengkalai, Kini Jadi Tempat Wisata Favorit di Pesisir Utara Tangerang

Kawasan Hutan Mangrove Desa Muara Dulu Terbengkalai, Kini Jadi Tempat Wisata Favorit di Pesisir Utara Tangerang

TANGERANG – Kawasan Hutan Mangrove Desa Muara yang berada di atas lahan milik Perhutani yang dulunya sempat menjadi tambak, namun mengalami kebangkrutan dan terbengkalai, kini menjadi salah satu tempat wisata favorit di Pesisir Utara Tangerang, karena kawasan tersebut memiliki pemandangan indah dan sejuk.

Kawasan wisata yang berdiri berdasarkan akte notaris nomor 6 tanggal 14 tahun 2011 dan sudah memiliki izin OSS ini di kelola oleh Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dengan jumlah pengurus sebanyak 20 orang dari unsur masyarakat tani dan nelayan.

Ketua LMDH, Haji Yatno saat di kunjungi Portal Desa mengungkapkan, awal mula berdirinya Hutan Mangrove ini berawal dari rasa kecintaannya terhadap lingkungan yang mengalami perubahan ekosistem dan terbengkalai.

“Melihat kondisi lahan yang sudah kritis akibat dari tambak yang mengalami kebangkrutan dari mulai Salembaran Jati, Salembaran Jaya, sampai ke Kronjo termasuk Desa Muara ini, akhirnya saya bersama warga berinisiatif dan bergerak untuk mengembalikan fungsi lahan tersebut,” ungkapnya, Selasa (7/6/2022).

Yatno juga mengatakan, sudah ada sekitar 300 batang pohon mangrove yang telah dia tanam yang terbentang dari mulai Desa Salembaran Jaya, Desa Tanjung Pasir, Desa Lemo dan Desa Muara dan itu semua dia lakukan secara swadaya tanpa ada campur tangan dari pemerintah.

“Sekarang, baru banyak yang melirik kalau mangrove itu patut untuk di kembangkan sesuai dengan instruksi Mentri Kehutanan Republik Indonesia, apalagi sekarang ada peraturan tentang kehutanan sosial tahun 2016, bahwa masyarakat melalui LMDH di perbolehkan untuk mengelola lahan perhutani,” jelasnya.

Pria yang di gadang-gadang akan mencalon diri menjadi anggota legislatif itu juga mengungkapkan, sebelum tahun 2016 masuk ke wisata hutan mangrove ini pengunjung tidak di pungut tarif hanya sifatnya sukarela tanpa ada paksaan.

“Supaya manajemen berjalan dengan baik, dari hasil pengunjung itu saya kelola dan saya manfaatkan untuk perapihan infrastruktur jalan dan joging track di tambah lagi buat upah yang ikut mengurusnya,” terang Yatno.

Dia menambahkan, dahulu sebelumnya untuk masuk ke wisata mangrove tidak ada akses jalan, akhirnya hasil dari pengunjung itu, ia alokasikan untuk pembuatan jalan sepanjang kurang lebih 1 kilometer. Ia juga berharap agar kelestarian hutan mangrove ini tetap terjaga.

“Saya ingin hutan mangrove ini tetap terjaga kelestariannya, sehingga masyarakat bisa hidup berdampingan dengan alam, secara hemogen bukan wisatanya yang kami kedepankan tapi ekosistem untuk anak cucu kita kedepan,” tandasnya. (b07)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -
- Advertisment -

BERITA TERBARU