Kewarasan Seorang Ibu Teruji Dalam Sistem Kapitalis Sekuler

Kewarasan Seorang Ibu Teruji Dalam Sistem Kapitalis Sekuler. Penulis: Eno Fadli (Ibu rumah tangga di Tangerang)

Bante24 – Kembali terulang kasus pembunuhan sadis yang dilakukan seorang ibu terhadap buah hatinya, di Tonjong, Brebes, Jawa Tengah. Seorang ibu muda tega menggorok leher anak kandungnya yang berusia 6 tahun dan melukai 2 anak lainnya.

Menurut pengakuannya di dalam sel tahanan ia hanya ingin menyelamatkan anak-anaknya dari hidup susah, sehingga mereka tidak merasakan kesedihan dan kematian adalah jalan terbaik untuk mereka, disamping itu pelaku juga menuturkan bahwa ia tidak mendapatkan kasih sayang dari suami. (Republika.com, 10/03/2022).

Kasus yang serupa juga pernah ditemui di Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, seorang ibu dengan teganya memberi racun kepada 2 orang anaknya dan anak yang paling kecil ditenggelamkan di bak mandi, ini juga dengan motif yang sama karena himpitan ekonomi (Okenews.com, 17/01/2018).

Ibu merupakan sosok penting dalam keluarga, dimana seorang ibu memiliki kedekatan khusus dengan buah hatinya, namun kini menjadi mesin pembunuh yang dengan teganya menghabisi nyawa mereka.

Dari beberapa fakta yang ditemui banyak faktor dalam rumah tangga yang terkadang menghilangkan kewarasan seorang ibu, seperti anak yang sulit diatur, mengurus seluruh urusan rumah tangga mulai dari memasak, mencuci mengasuh dan menjaga buah hatinya sampai mengantarkan sekolah dan mengajari pelajaran anak-anaknya.

Selain itu, seorang ibu juga dituntut serba bisa untuk melakukan itu semua pekerjaan dalam rumah tangga, ditambah lagi himpitan ekonomi, mendapatkan perlakuan kasar dari suami dan ketidakpedulian suami terhadap apa yang dirasakannya serta munculnya pihak ketiga dari kehidupan suami istri.

Faktor-faktor inilah yang kadang menjadi penyebab hilangnya kewarasan seorang ibu, padahal seorang ibu harus selalu menjaga kewarasannya agar bisa memenuhi kewajibannya sebagai seorang ibu.

Faktanya dari sederetan kasus kekerasan rumah tangga yang terjadi dengan anak sebagai korban pelampiasan amarah dan nafsu orang tuanya didominasi karena himpitan ekonomi.

Seorang suami sebagai sosok pemimpin rumah tangga yang memberi nafkah, rasa aman dan nyaman, serta senantiasa menjaga keimanan dan meningkatkan ketakwaan pada keluarganya sehingga tercipta keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah sulit terwujud karena sistem tidak mendukung itu semua.

Dengan penerapan sistem kapitalis sekuler, negara tidak mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya justru malah menyerahkan beban-beban dan segala urusannya kepada masyarakat, baik dalam pemenuhan kebutuhan pokok, kesehatan, pendidikan dan keamanan, hal ini menyebabkan kasus-kasus yang didominasi karena himpitan ekonomi terus berulang.

Sistem kapitalis-sekuler juga melahirkan individu-individu yang lemah secara akidah maupun mental dengan jauhnya agama dari kehidupan. Sehingga hal ini menghasilkan cara pandang hidup yang keliru dalam masyarakat kapitalis-sekularis yang menilai standar kebahagiaan mereka hanya dari sisi terpenuhinya kebutuhan secara materi, sehingga dengan cara pandang yang keliru inilah yang menjadikan ketika tidak terpenuhinya kebutuhan secara materi ditambah beban-beban lain yang menghimpit dan tidak terjaganya keimanan ketakwaan membuat seorang ibu mampu melakukan tindakan diluar akalnya.

Para suami juga hanya disibukkan dengan bagaimana cara agar kebutuhan pokok keluarga bisa terpenuhi hingga mengabaikan tugas lainnya sebagai kepala rumah tangga, dimana ia bukan saja diharuskan dalam mencari nafkah untuk keluarganya tapi juga harus memberi rasa aman nyaman serta selalu menjaga keimanan dan ketakwaan dari setiap anggota keluarganya, sehingga dengan hal ini lahirlah rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah, rumah tangga yang diselimuti cinta dan kehangatan.

Wallahu a’lam bishshawab

BERITA TERKAIT
- Advertisment -
- Advertisment -

BERITA TERBARU