Connect with us

Rubrik Ragam

Konflik Meningkat Imbas Pandemi Belum Teratasi

Tayang

-

Redaksi

Konflik Meningkat Imbas Pandemi Belum Teratasi

Oleh: Hidayati Sundari (Pendidik dan Pemerhati Masyarakat)

Kekerasan terhadap tenaga kesehatan di saat wabah, terus meningkat dan berulang. Kekerasan yang dialami para Nakes ini berupa kekerasan fisik dan verbal. Kata-kata kasar, pemukulan, bahkan sampai penusukan. Belum lagi kekerasan yang terjadi pada pasien Covid-19.

Konflik berupa kekerasan antar anggota masyarakat, warga terhadap para nakes, atau warga terhadap para satgas Covid-19, salah satu pemicunya adalah minimnya pemahaman masyarakat tentang Covid-19. Ditambah banyaknya berita bohong atau hoak mengenai Covid-19.

Tekanan ekonomi juga ikut memperburuk keadaan. Kehilangan pekerjaan, tidak ada penghasilan, atau usaha yang tutup membuat masyarakat jadi lebih mudah tersulut emosi, mudah terhasut dan tidak lagi dapat berpikir logis. Berita atau informasi yang mereka dapat, langsung mereka telan mentah-mentah tanpa mencari tahu kebenarannya.

Berita yang banyak beredar dan tidak dapat dipertanggung-jawabkan atau hoak seputar Covid-19 misalnya, Virus ini hanya hasil rekayasa, Banyak pasien yang di Covid-kan agar Rumah Sakit dan nakes mendapat keuntungan, Vaksin mengandung chip yang berbahaya.

Belum lagi banyak berita hoak lainnya yang beredar di masyarakat seperti seputar cara pengobatan yang keliru dan cara penyebaran Covid-19. Tidak bisa dipungkiri, banyaknya berita bohong atau hoak yang beredar di masyarakat membuat penanganan Covid-19 lebih sulit dan lama.

Di sinilah pentingnya peran pemerintah dalam memberikan edukasi kepada masyarakat, agar pemahaman tentang Covid-19 tidak lagi bercampur dengan berbagai berita bohong. Padahal wabah ini hampir genap dua tahun melanda Indonesia, akan tetapi masyarakat masih belum teredukasi dengan baik dan karena masih banyak konflik sosial yang terjadi di masyarakat, maka dalam hal ini pemerintah telah di anggap lalai.

Mengapa dikatakan lalai? sebab hanya pemerintah yang memiliki semua perangkat dalam hal memberikan edukasi kepada masyarakat, pemerintah yang mempunyai regulasi dan otoritas penuh. Maka sudah selayaknyah masyarakat mendapatkan edukasi yang benar mengenai Covid-19 dari pemerintah.

Abainya masyarakat terhadap protokol kesehatan, dan program yang digagas pemerintah untuk menanggulangi wabah, semua sepertinya hanya dilimpahkan kepada masyarakat. Sebab merekapun banyak melihat contoh dari para pemimpin mereka di mana para pemegang kebijakan seringkali mempertontonkan abainya terhadap protokol kesehatan. Seperti masih menghadiri atau merayakan perayaan yang tidak perlu, dan masih mengundang kerumunan.

Hal di atas diperparah dengan tebang pilihnya para penegak hukum, di mana para penegak hukum sangat tegas terhadap masyarakat kecil yang abai terhadap prokes tapi lemah saat menghadapi para penguasa atau pengusaha yang melanggar prokes.

Wabah yang tak kunjung selesai ini, telah memukul habis tanpa ampun warga masyarakat, dan kondisi bertambah parah dengan kebijakan pemerintah yang tidak pro terhadap mereka. Sebagai contoh nyata di saat PPKM diterapkan justru kebutuhan pokok mereka tidak dipenuhi.

Di mana semua ruang gerak terbatas, tidak ada lagi lapangan pekerjaan, dan ketika tidak berpenghasilan, maka mereka harus hadapi pilihan dengan resiko besar yaitu, mati kelaparan dengan berdiam diri di rumah atau mati karena terpapar covid-19 karena harus mencari sesuap nasi.

Begitupun ketika mereka atau keluarga mereka terpapar virus Covid-19, mereka sangat kesulitan mencari layanan kesehatan yang baik. Seakan kesehatan dan nyawa tidak lagi menjadi prioritas utama. Dikalahkan oleh kepentingan ekonomi yang lebih menguntungkan. Menguntungkan bagi para penguasa dan pengusaha lebih tepatnya.

Begitulah wajah asli dari sistem kapitalisme, yang mendatangkan keuntunganlah yang akan menjadi prioritas, walau harus mengorbankan banyak nyawa. Berbeda dengan sistem Islam. Dalam Islam hilangnya nyawa seorang muslim lebih besar perkaranya dari pada hilangnya dunia.

Dalam Islam negara adalah pengurus (rain) dan penjaga (junnah) bagi rakyatnya.

Rasullah Saw bersabda:
“Imam (khalifah) adalah rain (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.”
(HR Bukhari)

Hubungan yang dibangun penguasa dan rakyatnya seperti hubungan seorang Ayah terhadap anak-anaknya, selayaknya seorang ayah yang akan memastikan seluruh keluarganya terjamin mulai dari kesehatannya, sandang, pangan maupun papannya. Penguasa dalam Islam akan selalu memastikan rakyat terpenuhi kesejahteraannya dan dan melindungi dari berbagai ancaman yang akan membahayakan rakyatnya.

Sungguh sangat disayangkan, bahwa hal tersebut tidak akan mungkin terjadi jika kita masih memakai sistem yang rusak. Hadis di atas akan terlaksana jika diterapkannya aturan Islam dalam semua lini kehidupan. Sebab penerapan syariat Islam adalah jaminan terwujudnya rahmat bagi seluruh alam.

Wallahhu Alam Bish Showab.

Klik Untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *