Beranda Opini Letakkan Ayat Suci Diatas Tradisi

Letakkan Ayat Suci Diatas Tradisi

Ayat Suci Di Atas Tradisi
ilustrasi (istimewa)

Oleh: Erna Ummu Aqilah

Belakang ini publik dihebohkan dengan beredarnya video berdurasi sekitar satu setengah menit, dalam video menampilkan adegan seorang Qoriah disawer uang oleh beberapa jamaah, saat sedang melantunkan ayat-ayat suci Alquran di sebuah panggung.

Qoriah merupakan seorang perempuan muslimah, yang melantunkan ayat suci Alquran dengan suara yang merdu. Qoriah tersebut bernama Ustadzah Hj. Nadia Hawasy dari Tangerang.

Dari diskripsi Vidio tersebut, menunjukkan bahwa peristiwa terjadi pada saat peringatan Maulid nabi Muhammad Saw 20 Oktober 2022 di Masjid Jami Al-Ikhlas Kampung Eurih, Desa Cibingbin, Kecamatan Cibaliung Kabupaten Pandeglang Banten.

Video tersebut banyak menuai kecaman dari warga net, diantaranya dari Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah KH Cholil Nafis. MUI menegaskan tindakan demikian adalah haram dan sangat melanggar ada kesopanan. Serta meminta masyarakat untuk menghentikan tradisi tersebut, sebab bertentangan dengan kandungan kitab suci.

Menurut sang Qoriah, dirinya sama sekali tidak mengetahui rencana saweran tersebut. Saat sedang melantunkan ayat-ayat Alquran, tiba-tiba naik jamaah pria yang menyawerkan beberapa uang. Kemudian disusul oleh jamaah pria lainnya dengan menyelipkan uang di kerudungnya, dan disusul oleh jamaah perempuan.

Menurut Qoriah sendiri, dirinya juga kaget dan merasa direndahkan, namun tidak dapat berbuat apa-apa karena sedang melantunkan ayat-ayat Alquran. Kendati demikian ketika turun dari panggung, langsung menegur panitia acara.

Dari kejadian tersebut dapat disimpulkan bahwa, masyarakat terutama umat Islam sendiri ternyata masih banyak yang belum memahami adab ketika membaca, maupun mendengar ayat-ayat Alquran. Maka tidak heran jika alih-alih berniat untuk menghargai dan menghormati Qoriah, justru yang terjadi adalah sebaliknya.

Sebab saat ini masih banyak ditemui di berbagai wilayah tradisi nyawer, bahkan konon tradisi tersebut sudah terjadi secara turun-temurun. Semua dapat terjadi karena adanya pemisahan agama dari kehidupan. Sehingga masyarakat jauh dari ajaran agamanya, sehingga mereka lebih mengutamakan tradisi dari pada syariat Islam sendiri. Tak jarang meletakkan kearifan lokal diatas hukum-hukum Allah SWT.

Padahal Islam merupakan agama yang sangat sempurna, agama yang mengatur segala bentuk perbuatan terkait dengan akidah, ibadah, muamalah, akhlak dan lainnya semua diatur dengan sedemikian rupa, karena bersumber dari Sang Maha Pencipta yakni Allah SWT.

Dalam membaca Alquran sendiri ada beberapa adab yang harus dijaga diantaranya:

  • Dalam keadaan suci baik badan, pakaian, maupun tempat.
  • Duduk dengan sopan, tenang dan khusyuk.
  • Harus dengan Tartil.

Selain itu yang terpenting adalah, memahami makna dari kandungan ayat-ayat tersebut agar bisa diamalkannya.

Seharusnya apabila didengarkan ayat-ayat Allah, akan menambah keimanan dan ketaqwaan kita bukan sebaliknya. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Alquran surat Al-Anfal ayat 2.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka bertambah kuat imannya, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal”.

Sudah saatnya umat Islam berubah untuk lebih baik, yakni dengan mempelajari Alquran dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Menjadikan Alquran bukan sekadar bacaan saja, namun menetapkan sebagai pedoman hidup agar kita selamat dunia dan akhirat.

Semoga dengan adanya kejadian ini membuka hati para alim ulama, agar semakin giat berdakwah dengan menyampaikan apa yang masyarakat butuhkan, bukan sekadar yang masyarakat sukai.

Wallahu alam bishshawwab.

SebelumnyaTak Perlu ke Disdukcapil, Masyarakat Kabupaten Tangerang Bisa Urus Adminduk di Kecamatan Masing-Masing
BerikutnyaBlusukan Ala Pasha Ungu Mengikuti Jejak Jokowi dan Zulhas