Connect with us

Seputar Banten

MUI Lebak : Allah Melaknat Pelaku Santet dan Perdukunan

Tayang

-

Oleh

MUI Lebak : Allah Melaknat Pelaku Santet dan Perdukunan
Wakil Ketua MUI Kabupaten Lebak KH Akhmad Khudori. @Antara

Banten24.com – Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lebak, KH Akhmad Khudori mengatakan, agama Islam tidak mengajarkan ilmu sihir atau santet karena perbuatan itu masuk kategori musyrik.

Saat ini di masyarakat masih memercayai perbuatan sihir, meski tidak bisa dibuktikan secara hukum. Peristiwa kasus santet di Kabupaten Lebak, Banten, pernah terjadi dengan menuduh orang lain yang melakukan perbuatan santet sehingga warga menghakiminya.

“Kita berharap jauhkan perbuatan musyrik karena bertentangan dengan agama Islam,” katanya di Pondok Pesantren Al Abror Kabupaten Lebak, Kamis (18/3/2021).

Sebagai umat Islam, kata dia, jangan sampai kita melakukan perbuatan musyrik dengan menyembah selain Allah SWT. Pelaku santet masuk kategori musyrik, Allah SWT tidak akan mengampuni dosa mereka.

“Kita sebagai umat Islam jangan sampai melakukan perbuatan musyrik dengan menyembah selain Allah SWT,” kata dia, seperti dikutip Antara.

KH Akhmad Khudori menjelaskan, dalam ajaran Islam sangat keras bahwa ilmu sihir atau santet masuk kategori musyrik dan dalam kitab suci Al Quran Surah Annisa 48 bahwa pelaku santet dosanya tidak diampuni Allah SWT.

Perbuatan santet itu, menurut dia, tentu tidak boleh dilakukan, karena mereka menyembah jin, setan maupun perdukunan dan Allah pun melaknat perbuatan itu karena telah menyekutukan Allah dengan makhluk lain.

“MUI Pusat sudah mengeluarkan fatwa haram perbuatan santet dan perdukunan. Kita minta perbuatan santet itu tidak diajarkan karena mereka menyembah ke jin dan setan,” katanya menjelaskan.

Menurutnya, ilmu sihir berkembang bukan hanya di Banten saja, tetapi di semua daerah ada, karena dulu masyarakat Indonesia menganut kepercayaan animisme.

Pengertian bahasa santet itu melukai, lanjut dia, umumnya menyakiti, bercerai-berainya suami-istri hingga membunuh dengan cara kekuatan gaib. Oleh karena itu, Sultan Hasanudin Banten memerangi pelaku sihir atau santet, sebab perbuatan mereka musyrik dengan memercayai jin dan setan.

“Kita tidak boleh melakukan santet dan jika korbannya meninggal maka dosanya tidak diampuni dan keluar dari agama Islam,” katanya.

Editor: Abi Reza
Sumber: Antara

Klik untuk komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *