Connect with us

Opini

Pandemi Tumbangkan Ritel Raksasa

Tayang

-

Redaksi

Pandemi Tumbangkan Ritel Raksasa

Oleh: Erna Ummu Aqilah

Sudah setahun lebih negeri ini dilanda pandemi. Akibatnya gerak dan aktivitas serba terbatas, mulai dari aktivitas belajar mengajar, bekerja, beribadah, bersosialisasi dan lainnya. Begitu pula dalam aktivitas jual beli juga disesuaikan dengan kondisi pandemi, sebab kita harus tetap menjaga protokol kesehatan agar terhindar dari virus covid-19.

Akibatnya hampir sebagian besar aktivitas masyarakat dilakukan secara online termasuk aktivitas berbelanja. Jika dulu masyarakat lebih memilih berbelanja secara langsung baik di minimarket, supermarket atau mall, justru di masa pandemi berubah menjadi via online. Sebab belanja via online dirasa lebih mudah dan praktis juga aman demi alasan kesehatan. Selain itu pandemi juga telah memaksa masyarakat untuk menekan biaya pengeluaran dan lebih berhemat. Akibatnya banyak ritel-ritel besar yang gulung tikar karena terdampak pandemi.

Di bulan Juli 2021, PT Hero Supermarket Tbk menutup semua gerai hipermarket Giant. Dan berencana mengubah lima gerai Giant menjadi gerai perlengkapan rumah tangga IKEA.

Langkah ini diambil oleh Hero Group yang mengikuti peritel besar lainnya, yang sudah terlebih dahulu menutup gerai mereka karena terdampak pandemi. Seperti PT Matahari Departement Store yang tutup pada 2020 lalu. Selain itu juga ada gerai fashion Centro Departement Store dan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk.

Aprindo mencatat selama pandemi lebih dari 400 minimarket gulung tikar, sementara supermarket selama Maret – Desember 2020 rata-rata 5 gerai tutup setiap hari, sedangkan per Januari – Maret 2021 rata-rata ada 1-2 toko tutup setiap hari.

Beberapa insentif dari pemerintah untuk korporasi tidak didapat para pengusaha ritel, seperti relaksasi kredit dan insentif listrik. Keringanan yang didapat hanya insentif Pajak Penghasilan. Akibatnya terpaksa harus menutup ritel dan berakibat pada PHK karyawan.(Kompas.id, 28/5/2021).

Gelombang PHK masal tak dapat dihindari, dan berakibat dengan bertambahnya angka pengangguran. Apalagi saat pandemi sekarang ini sulit untuk mencari lapangan pekerjaraan, dan berimbas pada menurunnya daya beli masyarakat sebab mereka akan menekan angka pengeluaran. Selain itu peritel juga akan kehilangan investasi dan menimbulkan kerugian bagi korporasi, sebab investasi sangat dibutuhkan. Kerugian juga akan berimbas pada penurunan pendapatan daerah dari pajak air, tanah, reklame dan iklan. Fakta ini membuktikan kolapsnya ekonomi kapitalis dalam menghadapi pandemi.

Ekonomi dalam sistem kapitalis digerakkan dengan dua sektor.
Pertama, sektor keuangan seperti perbankan, pasar modal dan pasar uang.
Kedua, sektor riil yaitu aktivitas pertukaran barang dan jasa.

Terjadinya resesi pada dua tahun terakhir ini berbeda dengan resesi sebelumnya. Jika resesi sebelumnya dipicu dari sektor keuangan, sedangkan resesi saat ini dipicu dari sektor riil. Terbukti bahwa sistem ekonomi kapitalis telah menyebabkan kerusakan dan kerugian besar bagi umat manusia.

Hal ini tentu berbeda dengan sistem ekonomi Islam. Islam tidak memperbolehkan pengembangan sektor keuangan seperti ribawi dan spekulatif lain. Apabila terjadi krisis lebih disebabkan karena wabah atau bencana alam.

Islam memandang kegiatan ekonomi hanya terdapat dalam sektor riil seperti, pertanian, perdagangan, industri dan jasa. Dari sektor inilah kegiatan ekonomi didorong untuk maju dan berkembang.

Namun dalam Islam hukum kepemilikan produk barang/jasa dan transaksi berbeda dengan kapitalis. Dalam Islam kepemilikan individu dibatasi dengaan kepemilikan negara dan umum. Individu dilarang keras memiliki harta yang terkategori kepemilikan negara dan umum. Individu hanya dibolehkan mengambil manfaat dari kekayaan tersebut, namun dilarang untuk memiliki secara pribadi.

Dalam sistem Islam ada tiga jenis kepemilikan negara dan umum yaitu padang, air dan api. Seperti hutan, gunung, jalan, pulau, sungai, laut, air, listrik, berbagai tambang dan lainnya. Semuanya harus dikelola oleh negara demi kesejahteraan rakyatnya. Negara dilarang keras menyerahkan kepemilikan negara dan umum untuk dikelola oleh individu baik swasta maupun asing. Jadi hanya dengan ekonomi Islamlah seluruh kebutuhan primer rakyat dapat terpenuhi dengan baik. Wallahu A’lam Bishshawwab.