Connect with us

Opini

Peringatan Hari Anak Nasional di Tengah Keterbatasan

Tayang

-

Redaksi

Peringatan Hari Anak Nasional di Tengah Keterbatasan
Ilustrasi anak.(FREEPIK/JCOMP)

Oleh: Erna Ummu Aqilah

Setiap tanggal 23 Juli kita memperingati Hari Anak Nasional, pemilihan tanggal ini terjadi pada era Presiden ke-2 RI Soeharto. Bersamaan dengan pengeluaran Keppres No.44/1984, yang memutuskan bahwa Hari Anak Nasional (HAN) diperingati setiap tanggal 23 Juli. Dan diselaraskan dengan pengesahan Undang-Undang Tentang Kesejahteraan Anak pada 23 Juli 1979. Maka hingga saat ini, setiap tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional.

Peringatan ini merupakan momentum untuk menggugah kepedulian, dan partisipasi seluruh komponen bangsa, dan menjamin pemenuhan hak anak atas hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan hakekat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Namun, karena kondisi pandemi dan demi menyesuaikan dengan keadaan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemenpppa) RI, I Gusti Ayu Bintang Darmawati dalam sambutannya menyatakan, peringatan HAN untuk dilaksanakan secara online. Tujuannya agar dapat menjangkau lebih banyak anak dari 34 provinsi di Indonesia.

Adapun tema HAN kali ini “Anak Terlindungi, Indonesia Maju” dengan Tagline #AnakPedulidiMasaPandemi.
Adapun subtema HAN kali ini ada 5 hal yaitu:
1. Anak Cerdas Terliterasi
2. Anak Gembira dengan Asah, Asih, Asuh
3. Anak Sehat dan Gembira
4. Anak Cerdas, Kreatif dan Informatif
5. Anak Resiliensi Tangguh dengan Kasih Sayang. (tirto.id 19/7/2021).

Sudah berjalan sekitar 37 tahun, di setiap tanggal 23 Juli kita memperingati sebagai HAN namun, faktanya kehidupan anak-anak semakin hari bukannya semakin cerah namun sebaliknya. Padahal selama ini tema-tema yang diangkat dalam peringatan, selalu mengedepankan terjaminnya hak-hak anak agar dapat terpenuhi dengan baik.

Dengan adanya fakta tersebut, terbukti negara belum mampu menjalankan fungsinya dengan baik. Apalagi selama pandemi justru anak-anak semakin susah untuk mendapatkan hak-haknya. Sebab selama pandemi berlangsung kegiatan anak-anak semakin terbatas.

Proses belajar mengajar terpaksa dilaksanakan secara daring, dan menuntut anak-anak untuk melakukan segala aktivitas dari rumah, sehingga muncul kebosanan pada diri mereka. Selain itu banyak orangtua yang tidak mampu membelikan gawai anaknya, belum lagi kendala sinyal, ditambah lagi banyak orangtua yang kesulitan dalam mendampingi proses belajar mengajar, sehingga memicu setres dan masih banyak lagi masalah lainnya. Akibatnya di masa pandemi ini banyak anak-anak terpaksa memilih putus sekolah karena, banyak orangtua yang kehilangan pekerjaraan sehingga tak lagi sanggup membiayai mereka.

Dalam sistem kapitalis sekuler saat ini, sangat susah untuk bisa memenuhi kebutuhan serta hak-hak anak. Meskipun dalam Undang-Undang sudah diatur dan dijamin, faktanya susah untuk mewujudkannya. Sebab negara belum benar-benar menjalankan perannya, sehingga belum bisa menjamin ketahanan keluarga yang berimbas pada terabaikannya hak-hak anak.

Berbeda dengan sistem Islam, dengan keagungannya Islam mampu menjamin terpenuhinya hak-hak anak diantaranya:
1. Hak untuk hidup dan tumbuh berkembang.
2. Hak mendapat perlindungan dan penjagaan dari siksa api neraka.
3. Hak mendapatkan nafkah dan kesejahteraan.
4. Hak mendapatkan pendidikan dan pengajaran.
5. Hak mendapatkan keadilan dan persamaan derajat.
6. Hak mendapat cinta kasih.
7. Hak untuk bermain.

Dalam Islam, seluruh hak-hak tersebut wajib terpenuhi dengan sebaik-baiknya oleh kedua orangtuanya, apa bila orangtua tidak mampu maka, ahli waris wajib memenuhinya namun, jika ahli waris juga tidak mampu maka negaralah yang berkewajiban untuk memenuhinya. Semuanya sudah diatur dan ditetapkan dalam undang-undang negara yang bersumber dari Alquran dan Sunnah, bukan dari akal manusia yang syarat dengan nafsu dan kepentingan…

Klik Untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *