Connect with us

Peristiwa

Peringatan Hari Lahir Pancasila BEM FEB UMT Gelar Dialog Mahasiswa

Tayang

-

Banten24.com – Memperingati Hari Lahirnya Pancasila (1 Juni) dan Hari Lahir Presiden pertama RI, Sukarno (6 Juni), Badan Eksekutif Mahasiswa – Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Muhammadiyah Tangerang (BEM FEB UMT) menggelar Dialog Mahasiswa dengan tema: “Implementasi Peran Mahasiswa Dalam Menanamkan Nilai-nilai Pancasila di Era Digital”. Sabtu kemarin (6/6/2021).

Dialog Mahasiswa ini menghadirkan dua narasumber, Andri S. Permana, S.Sos (Ketua Fraksi PDI Perjuangan DRPD Kota Tangerang) dan Aslama Nanda Rizal, S.Sej. (Akademisi/Sejarawan UGM).

Acara dibuka oleh Rokhsan Cholis, selaku PJS Ketua BEM FEB UMT. Serta dimoderatori oleh Adil Winata.

Mengawali diskusi dan dialog, Aslam, menjabarkan secara panjang lebar dan kronologis perjalanan Sukarno menggali Pancasila hingga pidato 1 Juni 1945 dan ditetapkan sebagai dasar negara pada Sidang PPKI 18 Agustus 1945.

“Hal yang harus digarisbawahi adalah Bung Karno menggali Pancasila dari realitas dan pandangan hidup bangsa Indonesia yang telah ada sejak lama, dan Bung Karno mulai menggali/merumuskan Pancasila sejak kurang lebih 10-20 tahun sebelum 1 Juni 1945. Sejak di Bandung dan lebih mendalam ketika diasingkan ke Ende, Flores. Kita harus bedakan Hari Lahir dan Hari Penetapan. Ditetapkan 18 Agustus, bukan berarti tanggal itu adalah Hari Lahir. Kita harus bedakan, misal, bayi yang lahir, dengan akta kelahiran dibuat. Bisa saja bayi lahir 1 Juni, aktanya baru jadi 18 Agustus, tapi bukan berarti bayi tersebut lahirnya 18 Agustus.” kata Aslam.

Aslam juga mengingatkan Mahasiswa UMT umumnya dan seluruh warga hingga Pimpinan Muhammadiyah.

“Teman-teman semua harus catat baik-baik. Sampaikan ke seluruh penjuru warga Muhammadiyah, bahwa Bung Karno adalah salah satu Tokoh Muhammadiyah juga. Bung Karno nyantri ke KH. Ahmad Dahlan sebelum dan sembari mondok ke HOS Cokroaminoto. Ketika Bung Karno dibuang ke Bengkulu oleh Belanda, Bung Karno benar-benar gabung secara organisasi dengan MD (Muhammadiyah), bahkan menjabat Ketua Bidang Pendidikan (saat ini Majelis Dikdasmen). Kurang MD apalagi coba? Bahkan Bu Fatma -Fatmawati, kelak istrinya- adalah kader dan pengurus Aisyiyah, sekolah juga di Muhammadiyah. Bapak Fatma (Hasan Din), Pimpinan Muhammadiyah Bengkulu. Sampai wafat pun, Bung Karno tetap anggota MD, punya KTA lho… malah sampai berpesan, kalau wafat, jenazahnya minta dibungkus kain bendera MD.” papar Aslam.

Senada, Andri, menyampaikan bahwa kita semua bisa beraktivitas, berpolitik, dan melakukan apapun dengan aman dan nyaman karena adanya Pancasila yang digagas/digali Sukarno.

“Teman-teman bisa hadir di sini, Osan (Rokhsan) bisa jadi PJS BEM FEB walaupun orang Mauk, misalnya, dan siapapun bisa jadi pemimpin walau bukan putra daerah asli, karena apa? Karena Pancasila. Semua warganegara berhak memilih dan dipilih tanpa memandang suku, asal daerah, ras, agama dan aliran kepercayaan-golongan.” jelas Andri, Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Tangerang.

Andri juga berpesan, agar kita semua menjadi ‘Bung Karno – Bung Karno’ baru dan menjadi pembuat sejarah.

“Semoga kelak dari sini lahir Bung Karno – Bung Karno baru. Penting belajar sejarah, tapi lebih penting (untuk) membuat sejarah. Jangan warisi abunya, tapi warisilah apinya (api perjuangan Sukarno).” tutup Andri, yang juga menjabat sebagai Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Tangerang. (B02)

Klik untuk komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *