Polemik PPDB Banten 2022, Ini Pandangan Pendiri Aslam Center

Polemik PPDB Banten 2022, Ini Pandangan Pendiri Aslam Center

TANGERANG – PPDB Provinsi Banten 2022 dengan lingkup SMAN/SMKN di Kota Tangerang masih berlangsung hingga saat ini. Berdasarkan jadwal resminya, penerimaan siswa baru SMAN Kota Tangerang via jalur Zonasi dan Afirmasi sudah ditutup. Saat ini jalur Prestasi sudah dibuka dan berakhir pada 2 Juli 2022.

Sementara untuk penerimaan siswa baru SMKN Kota Tangerang sudah melalui jalur Tes. Adapun pengumuman hasil akhir keduanya (SMAN dan SMKN) diberikan pada 4-5 Juli 2022.

PPDB Provinsi Banten 2022 untuk SMAN/SMKN di Kota Tangerang ini seperti tidak ada habisnya untuk dibicarakan. Banyaknya keluh kesah warga dari tahun ke tahun, membuat Aslam Center, komunitas yang bergerak di bidang sosial-masyarakat khususnya pendidikan, prihatin dan mencoba bergerak mengkaji permasalahan ini.

Aslama Nanda Rizal, pendiri Aslam Center saat dihubungi via telepon seluler, memberikan pandangannya.

“Secara ilmiah, permasalahan PPDB di Provinsi Banten di ruang lingkup SMAN/SMKN dapat kita bedah. Pertama, terkait jalur Zonasi dan Afirmasi. Memiliki kelebihan yakni tidak adanya stigma dan polarisasi sekolah favorit dan non favorit, lalu membantu masyarakat sekitar untuk lebih dekat sekolah dengan rumahnya (Zonasi), dan bagi dari kalangan ekonomi kurang/tidak mampu dibantu melalui jalur Afirmasi,” katanya.

Namun jalur tersebut, kata Nanda, memiliki kelemahan yakni membuat siswa cuek, malas belajar dengan serius dan malas berprestasi karena rumahnya dekat dengan calon SMAN tujuan (Zonasi). Untuk jalur Afirmasi, siswa juga tidak mempedulikan nilai karena beranggapan sebagai kalangan kurang mampu, sudah selayaknya dibantu.

“Kelemahan berikutnya yakni rawan permainan negatif oknum baik dari RT/RW/ Lurah, LSM, staff dan guru, Kepala Sekolah memanfaatkan jalur tersebut untuk menguntungkan pribadi dan kolega/kelompok, baik secara materil maupun non-materil (basis massa politik),” ujarnya.

Sedangkan via jalur Prestasi, Nanda menjelaskan, memiliki kelebihan yakni membuat siswa tidak lulus jalur Zonasi & Afirmasi, bisa melalui jalur Prestasi ini. Namun juga memiliki kelemahan, yakni tidak transparannya “Prestasi” siswa tersebut, karena datanya tidak dibuka untuk umum, lalu hanya dilihat nilai rapor dan kadang dilema bisa direkayasa, prestasi non akademik dianggap jauh dari harapan karena situasi pandemi beberapa tahun ini, serta tidak dapat dipantau secara langsung untuk dievaluasi jika ada kejanggalan.

Sementara untuk PPDB SMKN, perihal tes dikembalikan lagi ke masing-masing sekolah sehingga tidak ada keterbukaan antara SMK dengan banyaknya/ berbeda jurusan tersebut. Sehingga rawan dipermainkan oleh oknum dengan dalih lulus tes.
Akademisi asli Tangerang lulusan S1 UGM (Universitas Gadjah Mada) dan saat ini S2 UI (Universitas Indonesia) ini juga menyatakan, lebih setuju agar PPDB di tahun berikutnya tidak melalui sistem seperti saat ini, melainkan dengan atau melalui jalur tes seperti cara masuk PTN (Perguruan Tinggi Negeri), atau seperti zaman 2006-2007 sebelum era NEM.

“Banyak sekali komentar di media sosial terutama Instagram, agar kembalikan lagi jalur tes sebagai satu-satunya jalan masuk SMAN/SMKN dengan keterbukaan informasi. Dipadukan dengan tanpa mengharuskan adanya sekolah favorit dan non-favorit,” ujarnya.

“Jadi agak sedikit mirip dengan Zonasi. Misal, siswa di sekitar SMAN / SMKN X ingin masuk sekolah tersebut, mereka semua tes, bisa atau tidak? Yang lolos/lulus, ya masuk. Jadi agak mirip Zonasi, tapi melalui tes. Deket rumah, iya. Ketahaun pinter/ lulus tes, juga iya. Adil kan?,” tutup Aslama Nanda Rizal. (red)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -
- Advertisment -

BERITA TERBARU