Connect with us

Opini

Ramadhan Sudah Terlewat Masikah Kita Taat?

Tayang

-

Ramadhan Sudah Terlewat Masikah Kita Taat?

Oleh: Erna Ummu Aqilah

Setelah satu bulan penuh menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, umat Islam merayakan hari raya Idul Fitri. Di hari kemenangan ini umat bersuka cita dengan merayakan bersama keluarga. Meskipun masih pandemi namun tak menyurutkan antusias mereka.

Pakaian serba baru dan berbagai macam kue serta hidangan khas lebaran tersaji dengan rapi. Adat berkunjung untuk silaturrahmi meskipun sangat terbatas namun, tak mengurangi kebahagiaan untuk menyambut hari kemenangan.

Semestinya selain kebahagiaan dan rasa suka cita merayakan hari kemenangan, kita musti menyadari hakekat dan tujuan Allah memerintahkan kita untuk berpuasa. Yakni membentuk kita menjadi pribadi yang bertakwa. Takwa adalah tunduk dan patuh terhadap apa saja yang Allah perintahkan untuk kita, baik terhadap kewajiban yang harus kita kerjakan maupun apa saja yang dilarang harus kita tinggalkan.

Dan ketakwaan ini seharusnya terus kita jaga, bahkan harus kita tingkatkan selepas lebaran. Sebab saat kondisi kita sedang berpuasa, dimana kita menahan rasa lapar dan dahaga kita sanggup untuk taat. Kita bisa menahan rasa marah, lebih sabar, banyak bersedekah, rajin membaca Alquran, rajin berzikir, segala bentuk amalan sunnah dan wajib mampu kita kerjakan dengan ikhlas. Seharusnya setelah lebaran usai, ketaatan ini semakain meningkat sebab kita tidak lagi menahan haus dan lapar.

Semestinya kita mencontoh seekor ulat, yang tadinya tampak buruk, sama sekali tidak menarik, dan cenderung kita merasa jijik namun, setelah berpuasa tampil sebagai kupu-kupu yang cantik dan menarik. Sehingga siapapun terpesona dengan keindahannya dan ingin mendekatinya. Begitulah seharusnya kita, setelah berpuasa kita berubah menjadi pribadi yg lebih takwa, relijius, dermawan, penyabar, dan menyenangkan, sehingga banyak orang yg lebih mencintai kita terutama Allah Swt.

Jangan sampai kita meniru pada seekor ular, sebagaimana kita tahu meskipun sudah berpuasa dan berhasil mengganti kulitnya, namun tetap saja berbisa, buruk, berbahaya, dan menakutkan.Terus bagaimana dengan diri kita? Setelah menjalankan puasa apakah jadi lebih baik, atau justru tetap dengan kebiasan buruk kita?

Namun dalam sistem kapitalis sekuler saat ini, untuk bisa istiqomah dalam ketaatan sangatlah berat sebab, tidak adanya penjagaan dari lingkungan maupun negara. Seharusnya kita senantiasa berusaha istiqomah dalam ketaatan meskipun itu berat, kita jaga ibadah kita, dengan cara berteman dengan mereka yang bisa mengingatkan dan menguatkan kita disaat kita futur dan lemah.

Selain itu amal ma’ruf nahi munkar juga harus terus dijalankan agar, lingkungan kita tetap dalam ketaatan. Setiap ada yang melihat kemaksiatan selalu berusaha mengingatkan, sehingga lingkungan aman dan nyaman serta terhindar dari keburukan.

Terurama peran negara sangatlah penting demi menjaga akidah umatnya agar senantiasa tetap dalam ketaatan. Dengan cara menerapkan seluruh aturan Allah Swt dan menjauhi segala larangannya. Dengan cara menerapkan sistem pendidikan, kesehatan, pergaulan, ekonomi, sosial, budaya, dan hukum, serta berbagai aturan lainnya berdasarkan apa saja yang Allah perintahkan. Sehingga baik individu, lingkungan maupun negara bisa bersinergi untuk saling menjaga dalam ketaatan, aamiin.

Klik untuk komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *