Suara Azan Panggilan Kebaikan

Suara Azan Panggilan Kebaikan. Penulis: Ummu Fikri (Penggiat Literasi)

Beberapa hari yang lalu beredar video Pak menteri yang mengungkapkan pandanganya terhadap kumandang azan yang selama ini kita mendengar 5 kali sebagai panggilan salat dalam sehari. Dalam video tersebut beliau pun mengungkapkan dengan perumpamaan suara gonggongan anjing jika secara bersamaan.

Video ini pun membuat banyak kalangan muslim yang merasa sakit hati dan sangat meyayangkan bagaimana mungkin seorang menteri sampai melakukan hal tersebut. Hingga akhirnya banyak beredar tulisan dan video yang berisi kekecewaan hingga kecaman. Bahkan ada polling yang berisi tentang setuju atau tidak setuju jika Beliau di turunkan. Hasil sementara dari polling tersebut di tanggal 26 Februari lebih banyak yang menyatakan setuju.

Video yang beredar, memang bersamaan dengan dikeluarkannya Surat Edaran Menteri Agama No 05 tahun 2022, berisi tentang Pedoman Pengeras Suara di Masjid dan Musala. Aturan ini berisi batas maksimum 100 desibel hingga batas waktu penggunaannya.

Azan adalah panggilan salat yang sudah ada dan dicontohkan oleh Rosulullah. Kita mengenal seorang muazin yang merupakan budak hitam yang dimerdekakan oleh Sahabat Rosul, Abu Bakar As Siddik. Beliau adalah Bilal bin Rabbah muazin yang suaranya begitu indah sehingga sangat terkenal. Rosul memerintahkan kepada Bilal, Sang Muazin untuk azan di tempat yang tinggi agar terdengar banyak orang sehingga waktu solat akan diketahui banyak orang.

Dari berbagai kisah, banyak pula yang akhirnya bersyahadat untuk menjadi muslim karena kekagumannya terhadap suara azan. Bahkan beredar video bagaimana mungkin seorang bayi yang sedang menangis akhirnya terdiam karena mendengar suara azan. Ini artinya ada kekuatan luar biasa yang seharusnya kita menjadi kagum atas itu semua.

Kalimat azan berisi kebesaran, pengakuan akan Allah dan Rosul, ajakan salat kepada kaum muslim dan pertanda datangnya waktu salat. Ini akan berkorelasi dengan adanya kewajiban kita untuk memakmurkan masjid. Bukankah salat dilaksanakan di masjid. Salat yang diikuti oleh banyak makmum sejatinya akan membuat masjid itu menjadi makmur.

Negara Indonesia adalah negara yang sangat menjunjung tinggi toleransi. Kementerian Agama pun mencanangkan tahun 2022 adalah Tahun Toleransi. Jadi amat sangat disayangkan jika toleransi yang dimaksud justru menuai rasa kekecewaan gegara pernyataan Pak Menteri.

Selama ini kita tak pernah merasa terganggu dengan suara lonceng yang terdengar dari sebuah gereja. Pun demikian tak ada yang terganggu dengan azan. Jika terganggu, sudah semenjak lama azan ditiadakan.

Azan adalah panggilan kebaikan. Orang yang memenuhi panggilan azan menunjukkan bahwa dia ingin menjadi pribadi yang disiplin, tepat waktu dan mengharapkan keutamaan. Harusnya kita bersyukur masih banyak para muazin yang ihklas mengumandangkan azan untuk mengajak kepada kebaikan.

Rosul bersabda dalam sebuah hadist: “ Apabila azan(sholat) diserukan maka syetan lari sambil terkentut-kentut sehingga dia tidak mendengar suara azan itu. Apabila dia (muazin) menyelesaikan azan maka ia (syetan) datang kembali, sampai ketika iqomah sholat dikumandangkan, ia (syetan) lari. Sampai ketika dia (muazin) menyelesaikan iqomah, dia (setan) datang kembali sehingga dia melintas diantara seseorang dan jiwanya. Dia berkata, “ Ingatlah ini dan ingatlah itu, tentang sesuatu yang tidak pernah dia ingat sebelumnya, sehingga orang itu tidak sadar berapa (rakaat) yang telah dia laksanakan? “ (HR Bukhori dan Muslim).

Dengan azan setan lari ketakutan. Maka harusnya kita senang jika sebuah masjid dan musala mengumandangkan azan. Ini artinya orang yang menyeru azan adalah yang mengajak kepada kebaikan. “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang sholeh dan berkata:

“Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS Fushilat:33).

Dalam azan ada ajakan kebaikan, pahala dan keutamaan. Untuk itu seharusnya kita bersyukur menjadi muslim kala azan dikumandangkan. Kita sepakat untuk menjunjung toleransi. Bukankah toleransi tidak akan menyakiti. Hidup saling berdampingan dengan berbeda keyakinan pun sudah dicontohkan oleh suri tauladan kita Rosul manusia pilihan. Wallahua’lam.

BERITA TERKAIT
- Advertisment -
- Advertisment -

BERITA TERBARU