Connect with us

Opini

Tontonan Jangan dijadikan Tuntunan

Tayang

-

Tontonan Jangan dijadikan Tuntunan
  • Goresan Pena : Yani Suryani (Pendidik di Madrasah)

Banten24.com – Siapa yang tidak tahu sinetron yang berjudul Ikatan Cinta. Disiarkan oleh salah satu stasiun swasta pada pukul 19.30 WIB setiap malam. Sinetron ini bercerita tentang Aldebaran yang diperankan oleh Arya Saloka dan Andin yang diperankan oleh Amanda Manopo. Suami istri yang dengan konflik-konflik menarik sehingga banyak penonton yang dibuat baper. Kaum yang baper meliputi semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga emak-emak yang sampai berurai mata dibuatnya karena kisah dalam sinetron ini.

Sinetron Ikatan Cinta saat ini sudah menduduki peringkat teratas rating sinetron di televisi. Salah satu hal yang menjadi tujuan dalam setiap penayangan karena akan berpengaruh pada banyaknya dan mahalnya iklan yang ada dalam setiap jeda sinetron tersebut.

Pengaruh dari sinetron ini sungguh luar biasa, betapa tidak saat ini trend rambut Andin menjadi model yang diikuti. Aldebaran yang ganteng dan super tajir, membuat banyak remaja yang berandai-andai jika suatu saat akan berjodoh dengan sosok seperti itu.

Sebenarnya bukan hal baru saat sinetron dijadikan trendsetter dalam berperilaku. Sebut saja sinetron berjudul “Tersanjung” yang disiarkan mulai tahun 1998 hingga 2005. Sinetron ini sempat menjadi hits kala itu, sehingga membuat banyak hal-hal yang ada dalam kisahnya diikuti oleh sebagian para penonton dan juga fans nya.

Inilah fakta menarik yang sering kita lihat di negeri mayoritas muslim. Dimana budaya ikut-ikutan sudah menjadi lumrah dan biasa. Tayangan televisi memang menjadi sebuah hiburan yang dihampir seluruh rumah ada. Bahkan disetiap ruangan ada. Seolah tak betah dan tak biasa jika televise itu tidak ada.

Kita ketahui bahwa fungsi dari televisi adalah sebagai sarana pendidikan dan hiburan. Karena memang lewat televisi ini banyak tayangan yang sangat mengandung unsur pendidikan. Namun jika kita jujur menimbang sepertinya unsur pendidikan yang ada jauh lebih sedikit dari unsur hiburannya. Tak banyak tontonan yang ada malah memiliki peluang untuk menghasilkan hal yang bersifat negativ dibanding positifnya.

Masa pandemi ini membuat kita memang lebih sering di rumah, akibatnya menonton televisi pun menjadi keputusan yang baik disaat kita dihimbau oleh pemerintah untuk tidak berkerumun dan tetap melakukan protokol kesehatan.

Namun amat disayangkan jika penonton kurang bijak dalam mengambil pelajaran atau amanat dari setiap tontonan yang ada. Sejatinya penonton harus realistis dalam menghadapi kehidupan di dunia nyata. Jika kita perhatikan sinetron yang ditayangkan, kebanyakan menggambarkan kehidupan yang begitu mapan secara materi. Rumah bak istana, kendaraan yang berkelas, pekerjaan yang berpenghasilan diatas dari upah yang ditetapkan oleh pemerintah (baca : UMR) dan kehidupan yang selalu dikelilingi dengan kesenangan dari sisi materi. Ini berbanding terbalik dengan kondisi negeri ini. Betapa tidak hanya berapa persen dari rakyat yang memiliki rumah bak istana, belum lagi pekerjaan yang bergaji luar biasa dan kendaraan yang mahal dan berkelas.

Rakyat di negeri ini hanya bisa berangan-angan dengan tontonan yang disuguhkan, sedangkan yang mereka alami sungguh sangat mengenaskan. Inilah hal yang sungguh hanya membuat sebuah ekpektasi yang jauh dari kenyataan. Maka jangan aneh jika di negeri ini sudah menjadi hal yang lumrah jika untuk memiliki rumah atau kendaraan dengan berhutang. Gaya hidup yang hanya berorientasi materi menjadi pemicu banyaknya masalah. Inilah yang menjadi kekahawatiran penulis, jika seandainya sebagai penonton menelan mentah-mentah apa yang ada dalam tontonan tersebut.

Islam mengajarkan hidup sederhana. Materi bukan menjadi ukuran dalam setiap hal yang kita lakukan. Banyak kisah yang menceritakan betapa Islam telah mampu membuat tujuan hidup sesorang berbalik arah. Kisah Mush’ab bin Umar harus menjadi pelajaran bagi kita, betapa pemuda tampan, gagah dan kaya raya serta selalu memakai baju yang wangi.

Namun saat Mush’ab berazzam untuk memeluk Islam beliau mampu dan rela menanggalkan semua apa yang menjadi miliknya. Sehingga Mush’ab menjadi pribadi yang sederhana, meninggalkan seluruh kekayaannya bahkan terpisah dari keluarga besarnya. Rosulullah bersabda “ Dulu tidak ada orang yang dapat menandingi mush’ab dalam mendapatkan kesenangan dari orang tuanya. Lalu semua itu dia tinggalkan demi cintanya kepada Allah dan Rosulnya”

Untuk itu marilah kita bijak untuk mengambil pelajaran dari setiap tontonan. Bukankah sekecil apapun semua akan dimintai pertanggung jawaban kelak. “ Maka barang siapa mengerjakan kebaikan sebesar zarrah, niscaya dia akan melihat (balsan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan sebesar zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya “(Q.S Al-Zalzalah 7-8).

Wallahua’lam bishshowab

Klik untuk komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *